Posts

Mungkin Esok Hari

Terhitung dua bulan sudah kita hanya memiliki jarak. Jarak yang memaksa kita berhadapan dengan sekat-sekat, tempat tubuh selalu ingin merebah. Jarak yang membatasi kita dengan sirap-sirap, tempat kita gantungkan baju penuh peluh. Jarak yang diam-diam dekatkan kita pada sebuah tempat yang biasa disebut "rumah". Menjalani kehidupan dengan definisi sederhana versi kita masing-masing. Memaknai setiap kejenuhan dengan rasa syukur yang tak henti kita panjatkan kepada penguasa semesta — yang sedang tidak baik-baik saja keadaannya. Menangkis pikiran-pikiran buram khas manusia dengan hati temaram. Kita semua sungguh merasakan jenuh yang sama. Kita semua sungguh merasakan resah yang sama. Jika pagi biasanya menerbangkan segar yang memantik semangat, maka mungkin pagi ini tidak sama lagi. Jika cantik senja selalu kau tunggu-tunggu untuk segera menjemput pulang, maka mungkin hari ini tidak ada kata "pulang" lagi. Kata "pulang" bahkan seakan-akan kehil...

Sebuah Privilese

Apakah benar ini yang dinamakan kebahagiaan atas sebuah privilese? Kebahagiaan yang menggiring pada sikap merasa layak untuk mendapat tepuk tangan merasa pantas untuk dielu-elukan merasa yakin untuk tidak menurunkan keegoisan Jika benar kebahagiaan atas privilese membawa kesombongan, maka sejatinya lebih baik menderita dibalik ketidakberdayaan atau lebih baik bergelut dengan ketidaksempurnaan Kebahagiaan atas privilese nampak fana Alih-alih menyatukan, ia malah menjauhkan Melempar jauh mimpi untuk bisa berjalan beriringan

Pesan dari Semesta

Dalam kondisi seperti ini, ada suara hati yang diam-diam berbisik, ada rasa yang ternyata lebih menikmati teriknya matahari, ditemani bunyi-bunyi klakson dipagi hari, daripada hening diantara dinding yang lukiskan rupa akan kenangan. Rupanya ada pesan yang dibawa semesta, untuk sejenak menghentikan makian, yang kita lontarkan hampir disetiap pagi, yang diam-diam membawa rejeki. Serta makian diujung malam dan teriakan penuh keluh kesah, yang bahkan diam-diam Tuhan titipkan berkah. Perenungan ini menjadi saksi, bahwa setiap kita saling terkoneksi dengan semesta yang sering kita maki. -- dari aku yang berjanji kan lebih menghargai setiap jengkal Jakarta beserta kebisingannya

Rekayasa Kehidupan

Hidup kadang terjadi begitu saja Mengalir tanpa ada sekat yang bisa menghalangi Memberi kabar duka tanpa memilih siapa yang lebih pantas  Memberi kabar bahagia kepada mereka yang dirasa tak pantas Hidup kadang terjadi begitu saja Membawa gerombolan pilu yang buat hati menganga dalam waktu yang begitu lama, bahkan saat semua pondasi untuk membangun mimpi hampir menyentuh puncaknya Hidup kadang terjadi begitu saja Mengajakmu berdansa bersama indahnya irama jatuh cinta, lalu memberi makna ceria pada setiap rasa yang ada, namun dalam sekejap mata merenggut dia yang begitu kau puja Meninggalkan jiwa yang kering digerogoti luka Hidup kadang terjadi begitu saja Mengulitimu dengan rasa menyakitkan,  lalu mengobati dengan beludak-beludak kegembiraan, yang bahkan sebelumnya tak berani kau bayangkan Hidup kadang terjadi begitu saja Seperti tanpa isyarat Seperti tanpa memberi firasat Berputar tuk seimbangkan duniamu, sambil diam-diam meniti...

Bisakah Kita?

Beberapa hari ini, aku belajar tentang apa itu firasat. Selarik perasaan yang bisa tiba-tiba menyapa dalam hatimu berbentuk isyarat kata yang tak bersuara. Aku memperlajari itu. Aku mempelajari bagaimana aku bisa merasakan firasat itu, dan membuatnya sebagai bisikan hati yang akan sampai pula ke hati yang lain. Aku memfirasatkan kamu.  Ada rasa yang tak bisa aku jelaskan tentang bagaimana mungkin aku bisa tahu bahwa kamu sebenarnya diam-diam memperhatikanku. Padahal sebelumnya aku kaku dan cenderung beku, jarang merasa bahkan untuk setiap hal yang terlihat. Tapi tentang kamu, isyarat itu sampai ke hatiku, dan firasat itu seperti berbicara lantang depan wajahku bahwa kamu memperhatikanku.  Aku bukan cecak di dinding yang hanya bisa bersuara dan menatap diam-diam tanpa menggubris, aku kirim balik isyarat kecil yang sempat kau lemparkan. Ku buatkan puisi, yang aku tahu bahwa kamu akan tahu kalau itu memang ditujukan untuk kamu. Dan benar saja, kamu menangkap isyaratku ...

Kontemplasi Semu

Ku dengar samar sejak tadi, riuh yang memenuhi kepala. Seperti biasa, terjebak dalam pikiran tanpa tindakan. Terlambat ku sadari bahwa memikirkan memiliki jarak yang panjang dengan melakukan.  Selalu memberi kesempatan utama untuk berpikir nyatanya tak melulu membawa keberhasilan. Malahan, seringkali berujung pada rentetan penundaan yang tak berarti.  Kata siapa kontemplasi benar-benar terakurasi? Justru, kontemplasi yang terlalu dalam membuat diri terpenjara dalam hal yang itu-itu saja dan seringkali mengesampingkan aksi yang harusnya dilakukan sejak awal.  Rasa-rasanya, semua menjadi terasa semu tanpa adanya sebuah hal yang benar-benar dilakukan. Memikirkan tanpa berakhir tindakan benar-benar sebuah kontemplasi semu. 

Berhenti Racik Racun Pikiran

Bisa-bisanya hujan turun begitu deras siang ini. Bukan, bukan aku tidak suka dengan kehadirannya.  Hanya saja ia terdengar sedikit marah. Derasnya menghujam. Gunturnya mencekam. Seperti sedang mengamuk dalam sekam.  Aku mulai mengutuk.  Aku diam sejenak dalam hening berteman sunyi.  Tidak, tidak akan ku biarkan rasa sepi ini menyelimuti batinku.  Tidak akan ku biarkan bayangan akan dirimu untuk sekedar muncul dalam benakku. Ku putar Daniel Caesar untuk membunuh sepiku. Berharap setiap nadanya menghantarkanku pada perasaan tenang untuk menghadapi kesendirian ini.  Lalu jutaan rintik pun bersenandung bersama Guntur yang mengamuk dan Daniel Caesar yang berusaha meredakan.  Apa-apaan ini? Awalnya sepi. Namun kemudian memekakkan.  Mungkin memang aku yang sengaja membuat gaduh.  Tapi bukan isi kepala yang ingin ku buat runtuh. Kesepianlah yang hendak ku buat jatuh.  Aku terus menulis.  Tanpa ada jeda...