Posts

Mengurai Benang Runyam

Mari kita coba menulis lagi.  -- Ini tentang sebuah penerimaan yang katanya berat untuk dilewatkan. Mari kita urai dengan tulisan, siapa tau bisa mewakilkan.  -- Katanya, dengan menulis kita bisa mengabadikan. Lalu apa yang hendak ku lakukan sekarang? Mengabadikan kepedihan? Mengabadikan suatu rasa sakit yang tidak mudah untuk dilupakan? Atau mengabadikan sebuah potret perjuangan meraih keikhlasan?  Ada panas yang sedari tadi berusaha menyeruak dari pelupuk mataku. Ada batu hitam di hati yang tidak henti-hentinya meraungkan begitu banyak keraguan, ketidakpercayaan, dendam, rasa benci, dan makian atas segala yang terjadi. Ingin sekali marah pada keadaan, melempar ribuan tanya pada Tuhan apa maksud atas segala keruntuhan yang bertubi-tubi terjadi. Mengapa seberat ini? Apa benar Tuhan terlalu yakin aku bisa melewati, meski dengan langkah yang terseok-seok dan jutaan kali ingin berhenti meski belum sampai di garis finish? Aku tidak mengerti.  Aku memang ...

Lagi Males Nulis

Saya lagi males nulis. Ngga tau kenapa dari kemarin ngga ada mood untuk nulis. Padahal layar macbook udah terpampang nyata depan mata tapi pikiran melalang buana entah kemana jemari pun rasanya layu dengan mata sayu dan bibir senyum kemayu tanpa ada maksud merayu. Eh apasih? Duh saya kenapa lagi ya? Padahal biasanya kalau lagi males ngapa-ngapain ya larinya ke nulis. Lah kalau lagi males nulis larinya kemana dong? Ya ngga kemana-mana, sudah, ambyar semuanya. Bingung mau ngapain. Ngapain ya yang asik? Atau lebih tepatnya nulis apa ya yang nggak bikin males nulis lagi? Nulis tentang lagi males nulis aja kali ya? Sebetulnya apa sih arti kata males? Eh males atau malas sih yang bener? Pake yang ngga benernya aja ya? Namanya juga manusia masa kini yang menghindari bahasa baku.  Males; hhmm keinginan untuk tidak melakukan apapun, ditambah tidak ingin memikirkan yang berat-berat. Males berarti ingin tidur seharian, rebahan, leyeh-leyeh sambil denger musik kenceng yang bikin ku...

Ketika Sehat sedang Ngambek

Kadang kita ngerasa badan oke-oke aja. Makan  junk food  hajar terus, sayur yang hijau-hijau dilupain. Belum lagi ngikutin  trend  dengan minum kenangan dan janji-janji walau sudah tau terlalu manis, tenggorokan diajak bersahabat dengan yang serba dingin padahal mungkin dia kan butuh kehangatan,  air putih hangat maksudnya… Balik lagi deh, ya begitu memang kebanyakan manusia, kok ya suka lupa sama si sehat. Padahal ternyata kita kan nggak ada apa-apanya tanpa si sehat. Produktifitas kamu yang katanya tinggi banget itu juga jadi lumpuh seketika kalau si sehat nggak ada. Tempat nongkrong kekinian yang biasa kamu datangi juga pasti jadi mendadak sepi, segala mimpi dan cita-cita kamu berubah jadi sekadar ilusi di kepala aja.  Keasikan manjain diri dengan nelen yang enak-enak bikin kamu lupa kalau ternyata sistem yang berjaga dalam tubuh kamu sudah mulai berontak minta diperhatikan, minta diurusi. Boro-boro kamu jaga, ditengok pun rasanya enggan. ...

Berpisah untuk Bersatu

Sebuah artikel yang menurut saya keren baru saja saya baca pagi ini. Seperti hari-hari biasanya, saya seringkali membuka  platform white board journal  karena memang saya haus akan bacaan yang bisa melatih otak saya agar tidak tumpul-tumpul amat , diluar dari itu memang tidak bisa dipungkiri jurnal ini seringkali menarik perhatian dengan  headline-headline -nya yang mampu menyentak rasa ingin tahu saya.  Seperti  headline kali ini yang berhasil membuat jari saya otomatis  clickbait ,  “Jangan-Jangan, Kita Justru Memerlukan Perpecahan?”.  Artikel ini diadaptasi oleh tulisan spesies terakhir seniman kontemporer bernama Irwan Ahmett yang baru saya kenal beberapa menit setelah membaca tuntas artikel ini. Kagum akan tulisannya, saya langsung menelusuri sosoknya.  Lanjut kepada isi artikelnya, saya sudah menduga bahwa artikel ini akan berisi banyak sindirian-sindiran akan propaganda persatuan yang banyak orang-orang gaungkan.  ...

Redup itu Begitu Membelenggu

Hari demi hari tidak terasa terus bergulir tanpa henti.  Tidak peduli kamu bosan, tidak peduli kamu sakit kepala, tidak peduli kamu sedang tidak peduli. Hidup berputar tanpa mau tahu kamu sedang ikut berputar atau malah sedang diam di tempat memutar pikiran.  Kamu merasa semesta terlalu memaksamu untuk ikut berputar kan? Padahal jelas-jelas jiwa ragamu membeku di tempat. Aku tahu kamu sedang memangku beban yang berat. Aku paham kamu lelah. Aku bisa merasakan kamu sedang gundah. Aku melihat kamu berusaha keluar dari putaran roda yang memaksamu ikut berputar.  Jakarta kemarin mendadak redup. Aku tau kamu sebenarnya senang, senang karena kamu tidak perlu merasa redup sendirian. Kamu sedikit lega. Akhirnya.. semua orang merasakan keredupan yang selama ini kamu rasakan. Begitu kata hati kecilmu. Redup itu begitu membelenggu. Memaksamu menikmati keadaan yang harusnya lebih indah jika terang. Jujur saya, kamu tidak merasakan keberatan akan hitam yang tiba-tiba mengguy...

Katakan Selamat Tinggal

Selamat tinggal,  Lagi santai baca buku, mendadak tertegun membaca sebuah kalimat “selamat tinggal”. Apa sih makna dari selamat tinggal? Berpindah dari zona nyaman kamu dan mencoba suatu hal baru? Sesederhana itu? Atau mungkin selamat tinggal pada keadaan yang menurut kamu terlalu melelahkan, sehingga kamu ingin coba berhenti dan berusaha meninggalkan? Selamat tinggal memang mengandung makna yang dekat dengan rasa lelah, rasa jengah, muak dengan keadaan yang kamu diami saat ini. Keinginan untuk menyelami dunia baru yang padahal belum tentu menghidupkanmu.  Kamu mungkin saja melihat kegelapan pada keadaanmu saat ini, dan terlalu mengharap terang pada hal abu-abu. Kamu bimbang. Berusaha tenang namun tak tahan ingin mengucap selamat tinggal. Kamu meronta, berteriak kencang tanpa suara, memasang sikap kuda-kuda untuk mengucap selamat tinggal.  Ah, itu karena kamu terlalu sering merasa tidak nyaman. Kamu terlalu banyak menyalahkan keadaan. Kamu terlalu banya...

Penyesalan Tak Berarti

Kamu adalah penyesalan terbesarku. Entah iblis macam apa yang merasuki tubuh dan pikiranku saat itu, saat tiap hariku dipenuhi akan kamu; akan cintamu, akan perjuangan-perjuanganmu untuk mendapatkan hatiku. Iblis itu begitu menguasai diriku, menampik semua cintamu dan membangun keraguan besar atas segala perilakumu, yang jelas-jelas amat sangat mencintaiku.  Dan bodohnya, baru aku sadari saat ini, bahwa belum ada cinta di muka bumi ini, melebihi besarnya cintamu padaku. Belum ada, atau mungkin tidak akan pernah ada lagi. Aku baru menyadari bahwa cintamu dulu adalah perasaan paling tulus yang pernah ku hembus, perjuangan paling dalam yang selalu ku tepis, dan harapan besar yang selalu ku patahkan.  Mungkin bodoh saja tidak cukup untuk menggambarkan aku; iya, aku yang dulu selalu menyangkal keberadaanmu. Menganggapmu sebagai desir angin sesaat, padahal jelas-jelas kamu menjelma sebagai malaikat pelindungku setiap saat.  Sampai akhirnya ku berpikir bahwa sat...