Posts

Sebuah Garis Waktu

Jika kamu memiliki kesempatan untuk memutar waktu, ke mana kamu akan menuju?  -- Bicara tentang waktu, sebuah siklus abu-abu yang menjerat diri tentang kepastian yang ilusi. Tempat yang seringkali diisi dengan kebahagiaan yang berdampingan dengan kepedihan. Penuh dengan lika-liku, jatuh bangun, naik turun. Begitu dinamis dan tak terprediksi. Apalah kita, makhluk yang inginnya dipanggil manusia namun berperilaku seperti pemilik semesta. Menghakimi waktu, menganggap rencana adalah sebuah jalan pasti tentang cerita hidup yang telah digariskan Tuhan. Padahal sudah jelas kita hanya hidup dalam lingkaran sempit waktu yang rodanya terus berputar tanpa ampun.  Lengah dalam perjalanan seakan-akan hal biasa. Namun bangkit di antaranya adalah sebuah keberanian untuk hidup berdampingan dengan waktu. Keberanian untuk mengakui kelemahan, keberanian untuk merubah kebiasaan, keberanian untuk menjemput apa yang selama ini dielu-elukan sebagai impian.   Jika setiap ha...

Binar yang Bersinar

Telah kutemukan kembali sebuah terang.  Yang sinarnya meneduhkan dan tak menyilaukan.  Yang sinarnya membawa kebahagiaan juga senyuman. Yang sinarnya banyak didambakan juga mencuri perhatian.  Benar, sinar itu ada di dalam binar matamu.  Anugrah Tuhan yang biasa kau gunakan untuk menatap indahnya dunia.  Dan tanpa sadar, anugrah Tuhan itu menjadi candu atas diriku untuk selalu menanti semangkuk pagi lengkap dengan segelas kopi. Lalu sinarmu menjelma bagai kudapan yang lezat.  Lahap kumenikmati pagi ditemani para merpati yang kucurigai ingin ikut bersamaku menikmati sinarmu.  Buyar!  Aku tak ingin berbagi.  Aku serakah ketika menikmati sinarmu.  Daya nalarku terkapar. Hatiku membuncah dibawa angin yang berpencar, berputar-putar aku dalam khayal yang memabukkan.  Teruntuk binar yang mengalihkan duniaku,  akan selalu ku jadikan engkau kudapan sejati mangkuk pagiku.  Sebut aku manusia...

Mungkin Esok Hari

Terhitung dua bulan sudah kita hanya memiliki jarak. Jarak yang memaksa kita berhadapan dengan sekat-sekat, tempat tubuh selalu ingin merebah. Jarak yang membatasi kita dengan sirap-sirap, tempat kita gantungkan baju penuh peluh. Jarak yang diam-diam dekatkan kita pada sebuah tempat yang biasa disebut "rumah". Menjalani kehidupan dengan definisi sederhana versi kita masing-masing. Memaknai setiap kejenuhan dengan rasa syukur yang tak henti kita panjatkan kepada penguasa semesta — yang sedang tidak baik-baik saja keadaannya. Menangkis pikiran-pikiran buram khas manusia dengan hati temaram. Kita semua sungguh merasakan jenuh yang sama. Kita semua sungguh merasakan resah yang sama. Jika pagi biasanya menerbangkan segar yang memantik semangat, maka mungkin pagi ini tidak sama lagi. Jika cantik senja selalu kau tunggu-tunggu untuk segera menjemput pulang, maka mungkin hari ini tidak ada kata "pulang" lagi. Kata "pulang" bahkan seakan-akan kehil...

Sebuah Privilese

Apakah benar ini yang dinamakan kebahagiaan atas sebuah privilese? Kebahagiaan yang menggiring pada sikap merasa layak untuk mendapat tepuk tangan merasa pantas untuk dielu-elukan merasa yakin untuk tidak menurunkan keegoisan Jika benar kebahagiaan atas privilese membawa kesombongan, maka sejatinya lebih baik menderita dibalik ketidakberdayaan atau lebih baik bergelut dengan ketidaksempurnaan Kebahagiaan atas privilese nampak fana Alih-alih menyatukan, ia malah menjauhkan Melempar jauh mimpi untuk bisa berjalan beriringan

Pesan dari Semesta

Dalam kondisi seperti ini, ada suara hati yang diam-diam berbisik, ada rasa yang ternyata lebih menikmati teriknya matahari, ditemani bunyi-bunyi klakson dipagi hari, daripada hening diantara dinding yang lukiskan rupa akan kenangan. Rupanya ada pesan yang dibawa semesta, untuk sejenak menghentikan makian, yang kita lontarkan hampir disetiap pagi, yang diam-diam membawa rejeki. Serta makian diujung malam dan teriakan penuh keluh kesah, yang bahkan diam-diam Tuhan titipkan berkah. Perenungan ini menjadi saksi, bahwa setiap kita saling terkoneksi dengan semesta yang sering kita maki. -- dari aku yang berjanji kan lebih menghargai setiap jengkal Jakarta beserta kebisingannya

Rekayasa Kehidupan

Hidup kadang terjadi begitu saja Mengalir tanpa ada sekat yang bisa menghalangi Memberi kabar duka tanpa memilih siapa yang lebih pantas  Memberi kabar bahagia kepada mereka yang dirasa tak pantas Hidup kadang terjadi begitu saja Membawa gerombolan pilu yang buat hati menganga dalam waktu yang begitu lama, bahkan saat semua pondasi untuk membangun mimpi hampir menyentuh puncaknya Hidup kadang terjadi begitu saja Mengajakmu berdansa bersama indahnya irama jatuh cinta, lalu memberi makna ceria pada setiap rasa yang ada, namun dalam sekejap mata merenggut dia yang begitu kau puja Meninggalkan jiwa yang kering digerogoti luka Hidup kadang terjadi begitu saja Mengulitimu dengan rasa menyakitkan,  lalu mengobati dengan beludak-beludak kegembiraan, yang bahkan sebelumnya tak berani kau bayangkan Hidup kadang terjadi begitu saja Seperti tanpa isyarat Seperti tanpa memberi firasat Berputar tuk seimbangkan duniamu, sambil diam-diam meniti...

Bisakah Kita?

Beberapa hari ini, aku belajar tentang apa itu firasat. Selarik perasaan yang bisa tiba-tiba menyapa dalam hatimu berbentuk isyarat kata yang tak bersuara. Aku memperlajari itu. Aku mempelajari bagaimana aku bisa merasakan firasat itu, dan membuatnya sebagai bisikan hati yang akan sampai pula ke hati yang lain. Aku memfirasatkan kamu.  Ada rasa yang tak bisa aku jelaskan tentang bagaimana mungkin aku bisa tahu bahwa kamu sebenarnya diam-diam memperhatikanku. Padahal sebelumnya aku kaku dan cenderung beku, jarang merasa bahkan untuk setiap hal yang terlihat. Tapi tentang kamu, isyarat itu sampai ke hatiku, dan firasat itu seperti berbicara lantang depan wajahku bahwa kamu memperhatikanku.  Aku bukan cecak di dinding yang hanya bisa bersuara dan menatap diam-diam tanpa menggubris, aku kirim balik isyarat kecil yang sempat kau lemparkan. Ku buatkan puisi, yang aku tahu bahwa kamu akan tahu kalau itu memang ditujukan untuk kamu. Dan benar saja, kamu menangkap isyaratku ...