Posts

Ketika Sehat sedang Ngambek

Kadang kita ngerasa badan oke-oke aja. Makan  junk food  hajar terus, sayur yang hijau-hijau dilupain. Belum lagi ngikutin  trend  dengan minum kenangan dan janji-janji walau sudah tau terlalu manis, tenggorokan diajak bersahabat dengan yang serba dingin padahal mungkin dia kan butuh kehangatan,  air putih hangat maksudnya… Balik lagi deh, ya begitu memang kebanyakan manusia, kok ya suka lupa sama si sehat. Padahal ternyata kita kan nggak ada apa-apanya tanpa si sehat. Produktifitas kamu yang katanya tinggi banget itu juga jadi lumpuh seketika kalau si sehat nggak ada. Tempat nongkrong kekinian yang biasa kamu datangi juga pasti jadi mendadak sepi, segala mimpi dan cita-cita kamu berubah jadi sekadar ilusi di kepala aja.  Keasikan manjain diri dengan nelen yang enak-enak bikin kamu lupa kalau ternyata sistem yang berjaga dalam tubuh kamu sudah mulai berontak minta diperhatikan, minta diurusi. Boro-boro kamu jaga, ditengok pun rasanya enggan. ...

Berpisah untuk Bersatu

Sebuah artikel yang menurut saya keren baru saja saya baca pagi ini. Seperti hari-hari biasanya, saya seringkali membuka  platform white board journal  karena memang saya haus akan bacaan yang bisa melatih otak saya agar tidak tumpul-tumpul amat , diluar dari itu memang tidak bisa dipungkiri jurnal ini seringkali menarik perhatian dengan  headline-headline -nya yang mampu menyentak rasa ingin tahu saya.  Seperti  headline kali ini yang berhasil membuat jari saya otomatis  clickbait ,  “Jangan-Jangan, Kita Justru Memerlukan Perpecahan?”.  Artikel ini diadaptasi oleh tulisan spesies terakhir seniman kontemporer bernama Irwan Ahmett yang baru saya kenal beberapa menit setelah membaca tuntas artikel ini. Kagum akan tulisannya, saya langsung menelusuri sosoknya.  Lanjut kepada isi artikelnya, saya sudah menduga bahwa artikel ini akan berisi banyak sindirian-sindiran akan propaganda persatuan yang banyak orang-orang gaungkan.  ...

Redup itu Begitu Membelenggu

Hari demi hari tidak terasa terus bergulir tanpa henti.  Tidak peduli kamu bosan, tidak peduli kamu sakit kepala, tidak peduli kamu sedang tidak peduli. Hidup berputar tanpa mau tahu kamu sedang ikut berputar atau malah sedang diam di tempat memutar pikiran.  Kamu merasa semesta terlalu memaksamu untuk ikut berputar kan? Padahal jelas-jelas jiwa ragamu membeku di tempat. Aku tahu kamu sedang memangku beban yang berat. Aku paham kamu lelah. Aku bisa merasakan kamu sedang gundah. Aku melihat kamu berusaha keluar dari putaran roda yang memaksamu ikut berputar.  Jakarta kemarin mendadak redup. Aku tau kamu sebenarnya senang, senang karena kamu tidak perlu merasa redup sendirian. Kamu sedikit lega. Akhirnya.. semua orang merasakan keredupan yang selama ini kamu rasakan. Begitu kata hati kecilmu. Redup itu begitu membelenggu. Memaksamu menikmati keadaan yang harusnya lebih indah jika terang. Jujur saya, kamu tidak merasakan keberatan akan hitam yang tiba-tiba mengguy...

Katakan Selamat Tinggal

Selamat tinggal,  Lagi santai baca buku, mendadak tertegun membaca sebuah kalimat “selamat tinggal”. Apa sih makna dari selamat tinggal? Berpindah dari zona nyaman kamu dan mencoba suatu hal baru? Sesederhana itu? Atau mungkin selamat tinggal pada keadaan yang menurut kamu terlalu melelahkan, sehingga kamu ingin coba berhenti dan berusaha meninggalkan? Selamat tinggal memang mengandung makna yang dekat dengan rasa lelah, rasa jengah, muak dengan keadaan yang kamu diami saat ini. Keinginan untuk menyelami dunia baru yang padahal belum tentu menghidupkanmu.  Kamu mungkin saja melihat kegelapan pada keadaanmu saat ini, dan terlalu mengharap terang pada hal abu-abu. Kamu bimbang. Berusaha tenang namun tak tahan ingin mengucap selamat tinggal. Kamu meronta, berteriak kencang tanpa suara, memasang sikap kuda-kuda untuk mengucap selamat tinggal.  Ah, itu karena kamu terlalu sering merasa tidak nyaman. Kamu terlalu banyak menyalahkan keadaan. Kamu terlalu banya...

Penyesalan Tak Berarti

Kamu adalah penyesalan terbesarku. Entah iblis macam apa yang merasuki tubuh dan pikiranku saat itu, saat tiap hariku dipenuhi akan kamu; akan cintamu, akan perjuangan-perjuanganmu untuk mendapatkan hatiku. Iblis itu begitu menguasai diriku, menampik semua cintamu dan membangun keraguan besar atas segala perilakumu, yang jelas-jelas amat sangat mencintaiku.  Dan bodohnya, baru aku sadari saat ini, bahwa belum ada cinta di muka bumi ini, melebihi besarnya cintamu padaku. Belum ada, atau mungkin tidak akan pernah ada lagi. Aku baru menyadari bahwa cintamu dulu adalah perasaan paling tulus yang pernah ku hembus, perjuangan paling dalam yang selalu ku tepis, dan harapan besar yang selalu ku patahkan.  Mungkin bodoh saja tidak cukup untuk menggambarkan aku; iya, aku yang dulu selalu menyangkal keberadaanmu. Menganggapmu sebagai desir angin sesaat, padahal jelas-jelas kamu menjelma sebagai malaikat pelindungku setiap saat.  Sampai akhirnya ku berpikir bahwa sat...

Perihal Seni dalam Diri, Benarkah Sebuah Potensi atau Sekadar Hobi?

Menginjak usia menuju dewasa, gue merasakan banyak hal yang baru gue tau mengenai diri gue sendiri. Aneh memang kedengarannya, tapi benar adanya. Walaupun sudah mendiami tubuh ini sekitar 20 tahun-an. Tapi rasa-rasanya gue baru kenal diri gue yang sesungguhnya belakangan ini. Gue mulai menyadari apa yang sebenarnya gue suka. Ini menarik sih, dan cukup penting juga. Misalnya buku. Gue emang suka banget baca buku dari kecil, ya bisa dilihat lah dari kacamata gue yang super tebel. Tapi gue nggak pernah ngira kalau ternyata gue bukan sekedar suka sama buku,  but addicted .  Gue ketagihan . Ketagihan baca buku. Dan hal ini bener-bener bisa gue rasain ketika gue ngelihat foto-foto perpustakaan. Jiwa gue meronta untuk pengin langsung kesana, pengin ngelihat langsung indahnya tumpukan dan barisan buku. Atau saat gue gak sengaja papasan dengan toko buku, rasanya sulit untuk menahan kaki biar nggak melangkah masuk kesana. Atau saat gue mencium aroma buku, rasanya sulit untuk ...

Perspektif Selera Musik Pasangan

Selamat siang untuk kamu yang habis makan siang atau mungkin masih menahan lapar karna kerjaan belum kelar atau bisa jadi tidak mau makan siang karna tidak punya uang. Huft, terdengar menyedihkan. Siang-siang gini habis makan siang emang paling asik sambil dengerin musik. Tujuannya sih biar beban kerjaan gak terasa berat…eh malah bikin ngantuk berat. Jangan, ya… Ngomong-ngomong musik, bagi kamu musik sepenting apa sih? Cuma teman penghilang suntuk atau malah teman seharian penuh? Kalau bagi gue sih sebagai anak muda pecinta kopi dan senja, kayaknya kurang asik kalau hidup tanpa musik. Di kereta dengerin musik, lagi suntuk kerja dengerin musik, sebelum tidur dengerin musik, kalau lagi gak pengin diusik dengerin musik atau yang paling ekstremnya ketika lagi dimarahin orang tua dengerin musik. Eh salah.. jangan coba-coba jadi durhaka ya. Sekarang aja gue nulis sambil mendengarkan musik. Nah, kelihatannya sih musik emang memiliki peran yang penting banget dan tidak bisa dipisahk...