Posts

Berhenti Racik Racun Pikiran

Bisa-bisanya hujan turun begitu deras siang ini. Bukan, bukan aku tidak suka dengan kehadirannya.  Hanya saja ia terdengar sedikit marah. Derasnya menghujam. Gunturnya mencekam. Seperti sedang mengamuk dalam sekam.  Aku mulai mengutuk.  Aku diam sejenak dalam hening berteman sunyi.  Tidak, tidak akan ku biarkan rasa sepi ini menyelimuti batinku.  Tidak akan ku biarkan bayangan akan dirimu untuk sekedar muncul dalam benakku. Ku putar Daniel Caesar untuk membunuh sepiku. Berharap setiap nadanya menghantarkanku pada perasaan tenang untuk menghadapi kesendirian ini.  Lalu jutaan rintik pun bersenandung bersama Guntur yang mengamuk dan Daniel Caesar yang berusaha meredakan.  Apa-apaan ini? Awalnya sepi. Namun kemudian memekakkan.  Mungkin memang aku yang sengaja membuat gaduh.  Tapi bukan isi kepala yang ingin ku buat runtuh. Kesepianlah yang hendak ku buat jatuh.  Aku terus menulis.  Tanpa ada jeda...

Cinta itu Sengaja

Cinta itu buta, katanya. Cinta itu tak disengaja, katanya. Namun sejak awal mengenalmu, aku sudah tahu akan mencintaimu. Bukan perkara cinta biasa, aku mencintaimu dengan cara yang ku sengaja. Sengaja mencintai pesona indahmu, sengaja mencintai caramu mengurai pikir, sengaja mencintai caramu mengendalikan setiap tatap, sampai sengaja mencintai caramu mengeja kata. Aku sangat sengaja.  Sengaja mencintaimu.  Sengaja mengagumimu.   Sengaja dengan segenap kesadaran dan akal sehatku.  Sebab aku tahu, kau pantas dicintai dengan sengaja.  Kau pantas dicintai dengan sebenar-benarnya.  Sayangnya hidup bukanlah mesin yang bergerak menuju impian, bukan pula roda yang berputar sesuai keinginan. Hidup tidak pernah berhenti menekan,  meski raga telah babak belur untuk bertahan.  Dan mereka mungkin benar,  kita tak bisa bersama hanya dalam perkara kebahagiaan, tanpa bekerja sama menjahit luka yang menyakitkan...

Dongeng Terindah

Biar ku dongengkan sebuah kisah cinta paling indah yang pernah ku punya.  -- Pernah ku mencintai sosok lelaki dengan begitu luar biasa. Semua yang ada pada dirinya ku kagumi, semua yang keluar dari mulutnya ku percayai, tatapan matanya begitu ku gilai, senyum manisnya tak pelak buatku hilang akal, segala tingkah lakunya lebih memabukkan dari minuman memabukkan yang pernah ada. Dia begitu sempurna bagiku, tak ada celah keburukan yang cukup untuk bisa membuatku membencinya atau mungkin sekadar tidak menyukainya.  Aku mengagumi dia, dengan amat sangat, dengan seluruh rasa yang ada pada diriku. Dengan segenap tarikan nafasku, dengan seluruh desiran darah yang mengalir dalam tubuhku. Aku mencintaimu, bisikku lirih dalam sunyi sepi yang menyelimuti. Aku begitu mencintainya sampai hilang segala cintaku pada semesta, aku hanya mencintainya sampai ku kehabisan kata untuk mewakilkan rasa cinta yang begitu dahsyat ini.  Jika bisa ku sumbang sesuatu paling berharga di se...

Bersawala dalam Senja

Saat senja menggantungkan keindahannya dihamparan cakrawala, kita terduduk dalam dua bangku, dipisahkan oleh sebuah meja namun tetap disatukan oleh rasa cinta. Kita saling berhadapan, memandang sesekali, namun tetap terjaga dalam diam yang tidak begitu menjemukan.  Senja kala itu kita sepakat hendak bersawala panjang tentang mimpi-mimpi yang hendak kita raih bersama. Setelah puluhan malam ku lewati dengan rasa rindu yang tak pernah berhenti, akhirnya saat-saat yang kunanti datang juga. Aku yang terpisahkan ratusan kilometer denganmu, berakhir dengan jarak hanya sejengkal membuat hatiku terpingkal girang. “Bagaimana 2 bulan tanpa kehadiranku?” Kamu membuka sawala panjang kita dengan kalimat yang barang tentu akan ku jawab dengan kalimat yang sama setiap saat. “Lelah.” Kataku singkat, mencoba untuk merangkum jutaan rinduku padamu dalam 1 kata.  “Lelah menahan rindu.” Sambungku, karna dirasa 1 kata tidak cukup mampu mewakilkan.  Matamu menyipit, bertan...

Mengurai Benang Runyam

Mari kita coba menulis lagi.  -- Ini tentang sebuah penerimaan yang katanya berat untuk dilewatkan. Mari kita urai dengan tulisan, siapa tau bisa mewakilkan.  -- Katanya, dengan menulis kita bisa mengabadikan. Lalu apa yang hendak ku lakukan sekarang? Mengabadikan kepedihan? Mengabadikan suatu rasa sakit yang tidak mudah untuk dilupakan? Atau mengabadikan sebuah potret perjuangan meraih keikhlasan?  Ada panas yang sedari tadi berusaha menyeruak dari pelupuk mataku. Ada batu hitam di hati yang tidak henti-hentinya meraungkan begitu banyak keraguan, ketidakpercayaan, dendam, rasa benci, dan makian atas segala yang terjadi. Ingin sekali marah pada keadaan, melempar ribuan tanya pada Tuhan apa maksud atas segala keruntuhan yang bertubi-tubi terjadi. Mengapa seberat ini? Apa benar Tuhan terlalu yakin aku bisa melewati, meski dengan langkah yang terseok-seok dan jutaan kali ingin berhenti meski belum sampai di garis finish? Aku tidak mengerti.  Aku memang ...

Lagi Males Nulis

Saya lagi males nulis. Ngga tau kenapa dari kemarin ngga ada mood untuk nulis. Padahal layar macbook udah terpampang nyata depan mata tapi pikiran melalang buana entah kemana jemari pun rasanya layu dengan mata sayu dan bibir senyum kemayu tanpa ada maksud merayu. Eh apasih? Duh saya kenapa lagi ya? Padahal biasanya kalau lagi males ngapa-ngapain ya larinya ke nulis. Lah kalau lagi males nulis larinya kemana dong? Ya ngga kemana-mana, sudah, ambyar semuanya. Bingung mau ngapain. Ngapain ya yang asik? Atau lebih tepatnya nulis apa ya yang nggak bikin males nulis lagi? Nulis tentang lagi males nulis aja kali ya? Sebetulnya apa sih arti kata males? Eh males atau malas sih yang bener? Pake yang ngga benernya aja ya? Namanya juga manusia masa kini yang menghindari bahasa baku.  Males; hhmm keinginan untuk tidak melakukan apapun, ditambah tidak ingin memikirkan yang berat-berat. Males berarti ingin tidur seharian, rebahan, leyeh-leyeh sambil denger musik kenceng yang bikin ku...

Ketika Sehat sedang Ngambek

Kadang kita ngerasa badan oke-oke aja. Makan  junk food  hajar terus, sayur yang hijau-hijau dilupain. Belum lagi ngikutin  trend  dengan minum kenangan dan janji-janji walau sudah tau terlalu manis, tenggorokan diajak bersahabat dengan yang serba dingin padahal mungkin dia kan butuh kehangatan,  air putih hangat maksudnya… Balik lagi deh, ya begitu memang kebanyakan manusia, kok ya suka lupa sama si sehat. Padahal ternyata kita kan nggak ada apa-apanya tanpa si sehat. Produktifitas kamu yang katanya tinggi banget itu juga jadi lumpuh seketika kalau si sehat nggak ada. Tempat nongkrong kekinian yang biasa kamu datangi juga pasti jadi mendadak sepi, segala mimpi dan cita-cita kamu berubah jadi sekadar ilusi di kepala aja.  Keasikan manjain diri dengan nelen yang enak-enak bikin kamu lupa kalau ternyata sistem yang berjaga dalam tubuh kamu sudah mulai berontak minta diperhatikan, minta diurusi. Boro-boro kamu jaga, ditengok pun rasanya enggan. ...